KOMENTAR DI BAGIAN BAWAH SEKALI

Sedang Duduk di Motor Sendiri, Remaja Tewas Digebuki Massa Gara-gara Ada yang Teriak Maling


Seorang remaja 18 tahun tewas digebuki massa, atas tuduhan mencuri sepeda motor. Padahal, saat itu, Rizky bersama temannya sedang duduk di atas motornya sendiri.

Fakta tersebut diungkap ayah Rizky yang tak terima anaknya tewas dihajar massa dengan tuduhan mencuri motor.

"Kalau anak aku mencuri motor mana buktinya? Dia duduk di atas motornya sendiri sedang main, ada orang yang tiba-tiba provokasi," kata Bakti, ayah Rizky.

Orang yang meneriaki Rizky maling motor kini dilaporkan Bakti ke polisi.

Suasana duka dirasakan keluarga Rizky (18 tahun) di rumahnya di Lorong Pulogadung, Jalan Pengadilan Negeri Km7 Palembang, Senin (24/2/2020).

Rizky tewas diamuk massa karena dituduh maling motor di kawasan Maskarebet, Sabtu (22/2/2020).

Kepedihan dirasakan kedua orangtua Rizky.

Masih terlihat, sang ibu Irnawati terus menangis tiada henti.

"Kami ngga terima anak aku meninggal kaya gitu, anak aku itu orang baik, penurut dengan aku," isaknya sambil terduduk lemas.

Sementara sang ayah, Bakti Nasir, terlihat lebih tegar.

Diceritakan Bakti, bermula dari dirinya mendapatkan kabar dari teman Rizky yang melihat Rizky dihajar massa.

Mengetahui hal tersebut, Bakti langsung menuju ke lokasi bersama sang istri.

Namun, setibanya di lokasi, sang anak telah dibawa ke Rumah Sakit Bayangkara.

Kemudian ia bersama sang istri bergegas ke RS Bhayangkara.

Sesampai di RS Bhayangkara, sang ibu langsung melihat sang anak berdarah di kepalanya tidak henti hentinya keluar.

”Istri aku liat anak aku tanpa busana semua kepala masih bedarah banyak, istri aku pingsan," ucapnya sambil mengingat kejadian.

Dirinya pun tidak meminta divisum oleh pihak RS Bhayangkara karena menunggu dokternya yang belum kunjung datang.

"Aku ngga minta visum kashian anak aku tanpa bebusana dia kaya penjahat dibuat padahal tidak boleh menghakimi," ucapnya.

Sepengetahuannya dari informasi awal, anaknya tersebut main ke arah Jalan Maskarebet Kota Palembang.

Waktu magrib ia bersama temannya masih duduk di atas motornya sendiri.

Namun ada seorang warga yang berteriak maling yang menjadi provokator sang anak dipukul.

"Kalau anak aku mencuri motor mana buktinya, dia duduk di atas motornya sendiri sedang main ada orang yang tiba-tiba provokasi."

"Kalaupun anak aku mau maling, orang ga boleh main hakim sendiri," ucapnya sedikit kesal.

Ia pun menambahkan, jika memang anaknya anak nakal, tidak mungkin lebih dari 100 orang temannya datang ke rumahnya untuk berduka.

Sementara, sang ibu yang mulai sedikit tenang pun mulai bercerita, dirinya sudah ada firasat dua hari sebelum kejadian dan hari H pas saat hendak kejadian.

"Ada firasat ibu, badan ngga enak, mandang Rizky tu khawatir bedesir, itu 2 hari sebelum anak aku meninggal.

"Ketika paginya sebelum malam ia meninggal, ibu ngomong dengan Bapak telpon Rizky supaya dia jangan pergi jauh-jauh," ucapnya lemas.

Kini, sang ayah sedang mengurus laporan dan berkas ke pengadilan.

Hal tersebut untuk mengusut kasus ini dengan tuntas.

Hal itu pun terlihat sang pengacara baru tiba di kediaman rumah Rizky.

Menurut Persen selaku pengacara, masalah ini akan dibawa ke pengadilan.

Lantaran, massa sudah menghakimi hingga menghilangkan nyawa pelaku.

"Masalah benar atau tidaknya klien saya mencuri itu tidak ada buktinya sampai saat ini."

"Sementara, provokator yang menghilangkan nyawa anak tersebut sudah banyak buktinya," ucap Persen secara tegas.

Di akhir wawancara, sang pengacara pun menyatakan untuk sekarang masih dalam pemenuhan berkas.

Dan kemungkinan besok, berkas akan dimasukkan ke Polsek Sukarami.
BAGIKAN SEGERA WhatsApp